Friday, 3 October 2014

ASAL MULA NAMA BANGKALAN




Bangkalan adalah sebuah nama salah satu kabupaten paling barat di pulau Madura.selain menjadi nama kabupaten bangkalan juga menjadi nama kota kabupaten. Asal usul nama bangkalan berasal dari bahasa Madura “bangka” dan ”la-’an” yang artinya sudah matilah. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat.
Menurut cerita di masyarakat, setelah berjayanya Arya wijawa sebagai adipati di Madura, pada dekade berikutnya dengan berlalunya waktu terbentuklah karakter orang-orang madura. Pada jaman itu dipenuhi dengan pergulatan dan perjuangan. Namun, yang sangat menyedihkan yaitu ketika dengan mudahnya para colonial belanda keluar masuk wilayah Madura. Dan hal inilah yang menyebabkan banyak munculnya pemberontakan-pemberontakan, yang sering dikenal dengan Trunojoyo, Ke’ (pak) lesap, sakerah dan lainnya.
Tronojoyo adalah putra pangeran waluyo dasarnya berjuang untuk membasmi ketidak adilan disambut gegap gempita oleh rakyat Madura setelah meninggalkan Mataram yang kemudian menaklukkan seluruh Madura.Mulai tampilnya pangeran trunojoyo sebagai pahlawan melawan penjajah merupakan awal kebangkitan Madura sebagai langkah maju pemberontakan berikutnya. Pada perjuangan berikutnya, trunojoyo mendapat bantuan dari orang-orang Makassar yang melakukan perampokan-perampokan di laut sekkitar  jawa timur setelah Makassar jatuh. Dari persekutuan yang telah dilakuakan pangeran trunojoyo diperkuat dengan pernikahan putri pangeran trunojoyo  dengan tokoh dari Makassar, yaitu Karaeng Galesong. Menjadikan keterpaduan wilayah yang berjarak jauh itu. Keterpaduan itu dapat di buktikan, bahwa banyak hal persa,aam antara keduanya. Baik secara hidup masyarakatnya,watak, maupun  sikap kesehariannya.bahkan di Madura sendiri ( pulau kangean, sumenep), bahasa yang digunakan banyak dipengaruhi oleh bahasa Madura,Bugis,jawa dan melayu.
Tokoh lain yang kerap menjadi kebanggan orang Madura adalah ke’ lesap. Dalam cerita yang di sebutkan, bahwa ke’lesap memilikisebuah senjata sakti yang berbentuk sebuah golok yang dapat di suruh mengamuk sendiri tanpa ada yang memegannya. Karena kesaktian-kesaktian yang beliau dimiliki membuatnya semakin tersoshor sampai keseluruh pelosok di Madura. Pada akhirnya, , Ke’ Lesap merasa yakin, bahwa ia sudah cukup mampu untuk mulai mengobarkan api pemberontakan. Keahlian dan kemasyhurannya, banyak membawa simpati kepada rakyat, sehingga sehingga pada saat turun dari pertapaan (Gunung Payudan) dengan sangat mudah dapat menaklukkan desa-desa yang didatangi.
Setelah menaklukkan wilayah dari Timur, Sumenep, Pamekasan dan Sampang, maka Ke’ Lesap beserta pasukannya menuju Bangkalan. Pertempuran dimulai, sebab pasukan Cakraningrat V sebagai penguasa di Bangkalan mengadakan perlawanan yang cukup hebat. Namun akhirnya kekuatan Bangkalan dapat dipukul mundur. Bantuan kompeni didatangkan dari Surabaya, dan pertempuran berlangsung kembali. Meski demikian dengan bantuan tersebut, Ke’ Lesap masih bertahan dan memukul mundur, dan Cakraningrat V mengungsi ke Malaja. Sedang benteng dipertahankan oleh kompeni.
Namun pada akhirnya, Ke’ Lesap jatuh di tempat asalnya, yaitu ketika Cakraningrat V melancarkan tipu muslihat dengan mengirim wanita ketempat pesanggrahan Ke’ Lesap di dea Tonjung. Wanta Tanda’ (ronggeng) yang berbusana keraton itu memegang bendera putih dan menyerahkan kepada Ke’ lesap. Bagi Ke’ Lesap tanda bendera putih itu pertanda Cakraningrat menyerah. Namun apadaya titik kelemahan Cakraningrat terletak di rambutnya. Konon wanita yang menyamar sebagai putri keraton (bernama nyi Marpuah) sesuai perintah CakraningratV berkesempatan memotong rambut Ke’ Lesap. Saat itu pula hilang kekuatannya termasuk kekuatan senjata goloknya yang bernama Kodhi’ Crangcang. 
Pada saat bersamaan Cakraningrat V beserta bala tentaranya menyerang dan menusukkan tombak pusaka Bangkalanyang bernama Si Nenggolo Gemetar. Dan bersinar seolah mengeluarkan api. Dan pada akhirnya Ke’ Lesap beserta bala tentaranya banyak yang binasa. Maka berteriaklah rakyat yang mengikuti rajanya bersama-sama berteriak ”Bangka-la’an” artinya sudah matilah. Sebagaimana diabadikan dengan nama Bangkalan, salah satu kabupaten di Madura.


0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com