“Mungkin jika kau ingin berubah, kau bias melakukannya” itulah yang Iin selalu ingat dari percakapannya bersama keempat sahabat lelakinya,
yaitu Umam, Rama, Daus dan Mafi. Mereka tak sengaja dipertemukan dalam satu kelas di SMA. Asal usul mereka juga tidaklah sama, apalagi sifat yang dimiliki mereka. Iin yang memiliki sifat tomboy dan penampilannya tak kalah
jauh dengan lelaki jika berada di lingkungan rumahnya, Iin juga memiliki kebiasaan buruk seperti suka manjat pohon, bertengkar dengan lelaki dan suka main bola,
walaupun keempat sahabatnya mengingatkan Iin untuk tidak bersikap seperti itu, tetapi tetap saja,
Iin sangat kekeh untuk diberi nasehat
tersebut. Kemudian Umam. Umam memliki sifat paling jail di antara keempat sahabatnya bahkan hampir setiap hari Umam selalu membuat ramai seisi kelas. Selanjutnya Rama. Walaupun dia lelaki, sifatnya sangatlah kalem, dia tidak suka bergaul dengan wanita
yang tampilannya tidak sopan. Selanjutnya Daus. Dia memiliki
sifat yang sangat sok cool kepada siapapun, terutama wanita dikelasnya.
Dan yang terakhir. Mafi. Dia satu-satunya sahabat yang Ibadahnya paling tekun.
Walupun demikian, dia memiliki mantan sangat banyak.
“Lantas,
apa tujuanmu sekolah disini jika kau tak ingin berubah?” tanya Daus kepada Iin
ketika mereka berlima berkumpul bersama pulang sekolah.
“Aku
sekolah disini karena kemauan dari Ayahku, itupun karena aku tidak mau jika aku
harus mondok” jawab Iin kepada Daus.
“Nah
In! Itu berarti ayahmu menginginkan yang terbaik untukmu, ingin kau berubah
menjadi lebih baik, bukan keterusan tomboy seperti ini” Ucap Rama menasehati
Iin.
“Mungkin
saja iya? Aku nggak tahu?” jawab Iin merasa bingung dengan keputusannya.
“In,
jika kau ingin berubah menjadi lebih baik dan feminim layaknya wanita lainnya
disana, kau bisa! Bukannya hobi suka pukul orang, ngajak berantem, manjat
pohon, itu semua sifat lelaki. Kita saja yang lelaki keren disini jarang
melakukan hal seperti yang kau lakukan” Ucap Mafi seraya memberi semangat untuk
Iin berubah.
“Lantas
kau Maf? Kuakui, Ibadahmu emang mantep! Tampang? Okelah! Lumayan! Tapi liat
noh! Mantanmu seambrek ! doyan banget mainin perasaan wanita” Bela Iin membuka
Aib Mafi
“Hahaha,
berarti Iin pun masih punya perasaan layaknya wanita lainnya dia bisa merasakan
apa yang dirasakan mantan-mantan Mafi” jawab Daus tertawa seraya mambantu Iin.
Mereka berlima selalu meluangkan waktu
untuk berkumpul bersama, entah itu pulang sekolah, ataupun dirumah salah satu
dari mereka, orangtua mereka juga telah memaklumi jikalau Iin wanita
satu-satunya dalam persahabatan yang dijalani. Hingga suatu saat berkumpul di rumah Rama, dengan asyik dan hangatnya keakraban mereka, tiba-tiba ibu
Rama memanggil Iin untuk membantunya. Ibu Rama juga sangatlah asyik dan mengerti perasaan para remaja zaman sekarang,
jadi jangan salah kalau Rama juga anak yang asyik walaupun kalem.
“Rama…! panggil Iin kemari untuk bantu Ibu” sahut Ibu
Rama kepada Rama.
“Iin nggak mau bu! Males katanya, ntar
disuruh bantu-bantu lagi bu....” Sahut Rama kepada Ibunya sambil melirik siniskepada Iin
“Eh! Apa kau Ram! Iya bu tunggu
sebentar...” Jawab Iin teriak
kepada Ibu Rama.
“kalau aku ngak mau dipanggil sama Ibunya
Rama, nggak bakal di ijinin main kesini lagi aku Ram! Dan nggak bisa lagi
habisin makanan Ibumu disini Ram, hehehe..” Ucap Iin kepada sahabat-sahabatnya
dengan suara berbisik.
Keramaian dirumah Rama sangatlah hangat,
persahabatan mereka hampir layaknya saudara, hingga banyak teman-teman lainnya
disana tidak suka melihat persahabatan yang mereka jalani. Bahkan Iin dianggap
sebagai wanita penggoda, karena suka bergaul dengan lelaki, tetapi keempat
sahabatnya selalu membela Iin jika ada seseorang yang tak suka pada Iin.
Hari demi hari telah berlalu begitu saja
dengan keceriaan yang tanpa batas, dan dari situlah, mulai terlihat perubahan
pada Iin, keempat sahabatnya baru menyadari bahwa Iin sudah tidak suka lagi
berkelahi dengan lelaki, Iin lebih memilih diam dan mengalah jika ada lelaki
yang mengganggunya dan akhirnya, keempat sahabatnyalah yang melindungi Iin jika
diganggu dengan lelaki lain.
“In, apa kita kata dulu? Masih ingatkah
kau? Jika kau ingin berubah menjadi lebih baik, kau bisa, dan ini, sekarang
buktinya! Kau sudah tidak suka lagi berkelahi, bahkan kami sekarang yang
melindungimu dari lelaki jail yang suka mengganggu kamu, kecuali Umam. Hehehe”
Ucap Mafi kepada Iin ketika mereka berkumpul pulang sekolah dengan nadamenyindiruntuk mayakinkan Iin.
“Heh? Hehehe, kalian ini! Emang benar sih,
mungkin aku sekarang bisa mulai sedikit berubah karena dorongan motivasi
kalian, yah walupun ini masih sangatlah sedikit” Jawab Iin kepada sahabat-sahabatnya
dengan senyuman malu.
“Seandaninya kau suka pakai rok jika
diluar rumah, kau akan terlihat lebih anggun, terus, kau sudah tak suka lagi
pukul-pukul anak lelaki lagi, nggak suka manjat pohon lagi, pastinya, kau akan
terlihat lebih manis Iin, karena dasarnya dirimu jika dilihat emang manis In..”
Puji Rama kepada Iin seraya menggodanya.
“Hmmm, hati-hati In, biasanya yang seperti
itu ada maunya!” ucap Umam kepada Iin.
“Jangan-jangan kau menaruh hati pada Iin
ya Ram?” tanya Daus seraya muka penuh tanda tanya kepada Rama
“Ya nggaklah! Mana mungkin? Impossible!
Kalau aku suka ke Iin sama saja aku hancurin persahabatan kita ini, dan aku
nggak mau, persahabatan kita hancur gitu aja” bela diri Rama.
Celotehan tersebut selalu saja terlontar
dari mulut mereka, bahkan mulai dari kejadian tersebut Rama selalu di ejek
dengan Iin, hingga akhirnyateman wanita dikelasnya tidak suka Iin diejek bersama Rama.
“Kau bersahabat disini hanya karena ingin
dekat dengan Rama? Sadar ya! Lelaki itu tidak suka dengan wanita yang
tampilannya seperti kamu!”
bentak teman sekelas IinkepadaIin yang tak suka Iin dekat dengan Rama.
“Kalau dari awal Iin hanya untuk dapetin
Rama, Iin dengan mudahnya menjadikan Rama pacarnya, tapi Iin bukan orang yang
seperti itu!” jawab Umam kepada wannita itu untuk melindungi Iin.
Karena Iin benar-benar ingin berubah, dia
harus merubah semua sikap buruknya, jadi, jika ada seseorang yang tak suka
dengan Iin, maka keempat sahabatnya itulah yang membela Iin. Hingga saatnya,
hari ulangtahun Iin akan segera tiba, dan ulangtahun ini, adalah ulangtahun
yang ke-17 buat Iin, keempat sahabtanya tersebut merencanakan yang spesial buat
Iin. Mereka memberikan kejutan yang mungkin tidak bisa dilupakan oleh Iin.
“In, ini kado dari kami untuk kamu, jika
kau tidak suka, harap maklumi, karena kami lelaki In, kami hanya berusaha
memberikan yang terbaik dan semoga ini bermanfaat buatmu” Ucap Daus sambil
memberikan kado bergambar teddy bear cantik kepada Iin
“Hahaha, kalian
ini, hanya doa yang kubutuhkan dari kalian, terimakasih banyak untuk semuanya,
kalian sahabat terbaik yang pernah aku punya, nggak salah, aku sayang sama
kalian semua” Ucap Iin dengan nada sangat gembira kepada teman-temannya.
“Okelah In,
sama-sama” jawab keempat sahabatnya secara serentak.
“kita kan juga
sayang Iin, nggak salah juga dong kalau kamu sayang kita, hehehe” ucap Mafi
kepada Iin dengan gaya genitnya.
Sesampainya
dirumah, Iin penasaran dengan isi kado tersebut, dengan segera Iin membuka
bingkisan kado cantik tersebut, dan akhirnya, dia sangat bahagia melihat isi
kado tersebut, bukan hanya bungkusnya yang cantik, tetapi isinya lebih cantik
menurut Iin. Dia mendapatkan
Rok panjang yang sangat anggun jika dikenakan, baju muslim wanita yang sangat
cantik, dan kerudung dengan warna yang sangat manis. Sejak saat itu, Iin menganggap hari Ulangtahunnya itulah yang paling
spesial dan tak mungkin terlupakan, dan mulai saat itu pula, Iin lebih sering
berpenampilan layaknya wanita feminim.
Karena Kalian, Ku Bisa Berubah

“Mungkin jika kau ingin berubah, kau bias melakukannya” itulah yang Iin selalu ingat dari percakapannya bersama keempat sahabat lelakinya,
yaitu Umam, Rama, Daus dan Mafi. Mereka tak sengaja dipertemukan dalam satu kelas di SMA. Asal usul mereka juga tidaklah sama, apalagi sifat yang dimiliki mereka. Iin yang memiliki sifat tomboy dan penampilannya tak kalah
jauh dengan lelaki jika berada di lingkungan rumahnya, Iin juga memiliki kebiasaan buruk seperti suka manjat pohon, bertengkar dengan lelaki dan suka main bola,
walaupun keempat sahabatnya mengingatkan Iin untuk tidak bersikap seperti itu, tetapi tetap saja,
Iin sangat kekeh untuk diberi nasehat
tersebut. Kemudian Umam. Umam memliki sifat paling jail di antara keempat sahabatnya bahkan hampir setiap hari Umam selalu membuat ramai seisi kelas. Selanjutnya Rama. Walaupun dia lelaki, sifatnya sangatlah kalem, dia tidak suka bergaul dengan wanita
yang tampilannya tidak sopan. Selanjutnya Daus. Dia memiliki
sifat yang sangat sok cool kepada siapapun, terutama wanita dikelasnya.
Dan yang terakhir. Mafi. Dia satu-satunya sahabat yang Ibadahnya paling tekun.
Walupun demikian, dia memiliki mantan sangat banyak.
“Lantas,
apa tujuanmu sekolah disini jika kau tak ingin berubah?” tanya Daus kepada Iin
ketika mereka berlima berkumpul bersama pulang sekolah.
“Aku
sekolah disini karena kemauan dari Ayahku, itupun karena aku tidak mau jika aku
harus mondok” jawab Iin kepada Daus.
“Nah
In! Itu berarti ayahmu menginginkan yang terbaik untukmu, ingin kau berubah
menjadi lebih baik, bukan keterusan tomboy seperti ini” Ucap Rama menasehati
Iin.
“Mungkin
saja iya? Aku nggak tahu?” jawab Iin merasa bingung dengan keputusannya.
“In,
jika kau ingin berubah menjadi lebih baik dan feminim layaknya wanita lainnya
disana, kau bisa! Bukannya hobi suka pukul orang, ngajak berantem, manjat
pohon, itu semua sifat lelaki. Kita saja yang lelaki keren disini jarang
melakukan hal seperti yang kau lakukan” Ucap Mafi seraya memberi semangat untuk
Iin berubah.
“Lantas
kau Maf? Kuakui, Ibadahmu emang mantep! Tampang? Okelah! Lumayan! Tapi liat
noh! Mantanmu seambrek ! doyan banget mainin perasaan wanita” Bela Iin membuka
Aib Mafi
“Hahaha,
berarti Iin pun masih punya perasaan layaknya wanita lainnya dia bisa merasakan
apa yang dirasakan mantan-mantan Mafi” jawab Daus tertawa seraya mambantu Iin.
Mereka berlima selalu meluangkan waktu
untuk berkumpul bersama, entah itu pulang sekolah, ataupun dirumah salah satu
dari mereka, orangtua mereka juga telah memaklumi jikalau Iin wanita
satu-satunya dalam persahabatan yang dijalani. Hingga suatu saat berkumpul di rumah Rama, dengan asyik dan hangatnya keakraban mereka, tiba-tiba ibu
Rama memanggil Iin untuk membantunya. Ibu Rama juga sangatlah asyik dan mengerti perasaan para remaja zaman sekarang,
jadi jangan salah kalau Rama juga anak yang asyik walaupun kalem.
“Rama…! panggil Iin kemari untuk bantu Ibu” sahut Ibu
Rama kepada Rama.
“Iin nggak mau bu! Males katanya, ntar
disuruh bantu-bantu lagi bu....” Sahut Rama kepada Ibunya sambil melirik siniskepada Iin
“Eh! Apa kau Ram! Iya bu tunggu
sebentar...” Jawab Iin teriak
kepada Ibu Rama.
“kalau aku ngak mau dipanggil sama Ibunya
Rama, nggak bakal di ijinin main kesini lagi aku Ram! Dan nggak bisa lagi
habisin makanan Ibumu disini Ram, hehehe..” Ucap Iin kepada sahabat-sahabatnya
dengan suara berbisik.
Keramaian dirumah Rama sangatlah hangat,
persahabatan mereka hampir layaknya saudara, hingga banyak teman-teman lainnya
disana tidak suka melihat persahabatan yang mereka jalani. Bahkan Iin dianggap
sebagai wanita penggoda, karena suka bergaul dengan lelaki, tetapi keempat
sahabatnya selalu membela Iin jika ada seseorang yang tak suka pada Iin.
Hari demi hari telah berlalu begitu saja
dengan keceriaan yang tanpa batas, dan dari situlah, mulai terlihat perubahan
pada Iin, keempat sahabatnya baru menyadari bahwa Iin sudah tidak suka lagi
berkelahi dengan lelaki, Iin lebih memilih diam dan mengalah jika ada lelaki
yang mengganggunya dan akhirnya, keempat sahabatnyalah yang melindungi Iin jika
diganggu dengan lelaki lain.
“In, apa kita kata dulu? Masih ingatkah
kau? Jika kau ingin berubah menjadi lebih baik, kau bisa, dan ini, sekarang
buktinya! Kau sudah tidak suka lagi berkelahi, bahkan kami sekarang yang
melindungimu dari lelaki jail yang suka mengganggu kamu, kecuali Umam. Hehehe”
Ucap Mafi kepada Iin ketika mereka berkumpul pulang sekolah dengan nadamenyindiruntuk mayakinkan Iin.
“Heh? Hehehe, kalian ini! Emang benar sih,
mungkin aku sekarang bisa mulai sedikit berubah karena dorongan motivasi
kalian, yah walupun ini masih sangatlah sedikit” Jawab Iin kepada sahabat-sahabatnya
dengan senyuman malu.
“Seandaninya kau suka pakai rok jika
diluar rumah, kau akan terlihat lebih anggun, terus, kau sudah tak suka lagi
pukul-pukul anak lelaki lagi, nggak suka manjat pohon lagi, pastinya, kau akan
terlihat lebih manis Iin, karena dasarnya dirimu jika dilihat emang manis In..”
Puji Rama kepada Iin seraya menggodanya.
“Hmmm, hati-hati In, biasanya yang seperti
itu ada maunya!” ucap Umam kepada Iin.
“Jangan-jangan kau menaruh hati pada Iin
ya Ram?” tanya Daus seraya muka penuh tanda tanya kepada Rama
“Ya nggaklah! Mana mungkin? Impossible!
Kalau aku suka ke Iin sama saja aku hancurin persahabatan kita ini, dan aku
nggak mau, persahabatan kita hancur gitu aja” bela diri Rama.
Celotehan tersebut selalu saja terlontar
dari mulut mereka, bahkan mulai dari kejadian tersebut Rama selalu di ejek
dengan Iin, hingga akhirnyateman wanita dikelasnya tidak suka Iin diejek bersama Rama.
“Kau bersahabat disini hanya karena ingin
dekat dengan Rama? Sadar ya! Lelaki itu tidak suka dengan wanita yang
tampilannya seperti kamu!”
bentak teman sekelas IinkepadaIin yang tak suka Iin dekat dengan Rama.
“Kalau dari awal Iin hanya untuk dapetin
Rama, Iin dengan mudahnya menjadikan Rama pacarnya, tapi Iin bukan orang yang
seperti itu!” jawab Umam kepada wannita itu untuk melindungi Iin.
Karena Iin benar-benar ingin berubah, dia
harus merubah semua sikap buruknya, jadi, jika ada seseorang yang tak suka
dengan Iin, maka keempat sahabatnya itulah yang membela Iin. Hingga saatnya,
hari ulangtahun Iin akan segera tiba, dan ulangtahun ini, adalah ulangtahun
yang ke-17 buat Iin, keempat sahabtanya tersebut merencanakan yang spesial buat
Iin. Mereka memberikan kejutan yang mungkin tidak bisa dilupakan oleh Iin.
“In, ini kado dari kami untuk kamu, jika
kau tidak suka, harap maklumi, karena kami lelaki In, kami hanya berusaha
memberikan yang terbaik dan semoga ini bermanfaat buatmu” Ucap Daus sambil
memberikan kado bergambar teddy bear cantik kepada Iin
“Hahaha, kalian
ini, hanya doa yang kubutuhkan dari kalian, terimakasih banyak untuk semuanya,
kalian sahabat terbaik yang pernah aku punya, nggak salah, aku sayang sama
kalian semua” Ucap Iin dengan nada sangat gembira kepada teman-temannya.
“Okelah In,
sama-sama” jawab keempat sahabatnya secara serentak.
“kita kan juga
sayang Iin, nggak salah juga dong kalau kamu sayang kita, hehehe” ucap Mafi
kepada Iin dengan gaya genitnya.
Sesampainya
dirumah, Iin penasaran dengan isi kado tersebut, dengan segera Iin membuka
bingkisan kado cantik tersebut, dan akhirnya, dia sangat bahagia melihat isi
kado tersebut, bukan hanya bungkusnya yang cantik, tetapi isinya lebih cantik
menurut Iin. Dia mendapatkan
Rok panjang yang sangat anggun jika dikenakan, baju muslim wanita yang sangat
cantik, dan kerudung dengan warna yang sangat manis. Sejak saat itu, Iin menganggap hari Ulangtahunnya itulah yang paling
spesial dan tak mungkin terlupakan, dan mulai saat itu pula, Iin lebih sering
berpenampilan layaknya wanita feminim.


0 comments:
Post a Comment