Lagi dan lagi sakit
ini terus menghantuiku, kenapa selalu aku yang merasakan sakit yang tiada akhir ini.
Tidakkah dia merasakan betapa aku sangat sangat cinta kepadanya. Tidakkah dia
merasakan betapa sakitnya ketika aku melihatnya bersamanya. Lagi lagi andin dengan mudahnya dia tanpa rasa bersalah dia
berjalan bersamanya. Dia tertawa
bersamanya dan tak mempedulikan aku yang yang jelas-jelas berada di
belakangnya. Tidakkah dia bisa mengerti aku sedikit saja.
Melihat kejadian itu
membuatku kesal dan akupun memutuskan untuk segera pergi dari kampus supaya
tidak melihat wajahnya yang dapat membuatku semakin kesal. Namun, ketika di
jalan menuju ke tempat parkir aku kembali bertemu dengan andien dan raka.
Seketika dia melihatkum diapun segera menghampiriku. Dan aku pun segera
berpaling untuk pergi meninggalkannya. Karena hatiku masih kesal melihatnya.
Namun, ketika aku hendak pergi meniggalkannya dia mencegahku dengan menarik
tanganku.
“kamu kenapa kog
tumben ga ada kabar”. Dia masih bertanya aku kenapa?? Itu membuatku semakin
kesal .
Meskipun dengan hati
yang tetep kesal aKu jawab ‘’tidak apapa”
“bohong, jelaskan
padaku kenapa ??”
“sudah kubilang kan,
aku gapapa”
“trus kenapa seharian ini aku tidak
melihatmu???”
“aku sibuk dengan
tugas kuliah”
“ooh, begitu”
“aku harus pergi
masih ada urusan yang harus aku selesaikan “
Dan setelah itu
akupun pergi meinggalkannya yang masih diam membisu di tempanya. Aku tak peduli
meskipun dengan apa yang sedang ia rasakan.
Sesampainya di
rumah, aku segera merebahkan tubuhku diatas kasur. Pikiranku sungguh kacau,
kenapa.... kenapa harus aku yang merasakan semua ini padahal banyak pasangan di
dunia ini, temanku tidak sperti ini, kenapa harus aku yang merasakan ini.apa
salahku kenapa harus aku yang menerima semua sakit ini. Memang aku sungguh
mencintainya namun haruskah seperti ini. Tidak bisakah dia mengerti sedikit apa
yang aku inginkan aku tidak meminta apa-apa kepadamu, aku hanya minta
mengertilah sedikit saja perasaanku.
Perasaanku sungguh
kalut, sungguh kau tak sangguh tak sanggup lagi jika seperti ini. Ketika aku
hendak memejamkan mata, ibu memanggil namaku, dan aku segera turun ke ruang
tamu.
“Rian, ini ada surat
buat kamu “
“dari siapa??”
“ibu gatau,
lebih kamu baca sendiri”
Dan kulihat cover surat itu tertulis “ KEMENTRIAN
LUAR NEGERI” yang beisi
“ YANG TERHORMAT
KEPADA SAUDARA RIAN PRATAMA, KAMI DI DISINI MEMBERITAHUKAN BAHWA KAMI MENDAPAT
PEMBERITAHUAN DARI KEMENTRIAN LUAR NEGERI DI INGGRIS BAHWA BEASISWA YANG ANDA
AJUKAN DI TERIMA DAN SEGERA MENGURUS BERKAS-BERKAS YANG DI BUTUHKAN”
Ketika aku membaca
surat itu aku tak tahu apakah aku harus senang atau tidak, karena si satu sisi
akhirnya aku bisa mencapai impianku untuk bersekolah di luar negeri. Namun, di
sisi lain aku jaga harus meninggalkan kehidupan di sini. Hal yang paling berat
untuk aku tinggalkan adalah andien. Andien sudah menjadi bagian dari hidupku.
Aku sungguh mencintainya,semuanya dulu sangat indah kenangan ku bersamanya,
banyak hal yang telah aku lalui bersamanya, baik senang, tertawa bersamanya,dan
hal yang paling indah adalah ketika kami sedang jalan bersamanya dan ketika itu
tanpa di sangka hujan turun mengguyur. Namun, kami tidak segera berteduh melainkan kami bermain hujan
dan tertawa bersama. Akupun tanpa sadar tersenyum menginagat kenanganku
dengannya. Namun, semunya beruabah dengan kehadiran raka. Dia mulai tidak
memperhatikanku, akupun ragu dengan perasaanya saat ini.
Haripun berlalu, dan
akupun belum memutuskan apaka aku akan mengambil beasiswa itu atau tidak.
Seperti biasa aku pergi ke kampus dengan perasaan tanpa semangat. Dan aku tidak
berhubungan dengan andien beberapa harin ini karena kejadian itu. Namun, aku
terkejut tak percaya melihat apa yang ada di depanku. Aku melihat andien sedang
berjalan bersama dengan raka dan yang membuatku seakan ingin berlari dan
menghajar raka adalah ketika melihat mereka berpegangan tangan. Sungguh dada
ini serasak sesak. Aku tak kuat melihat apa yang barusan aku lihat. Dan pada saat itu sudah
aku putuskan bahwa AKU AKAN PERGI.
Setelah kejadian itu
aku putuskan untuk pergi. Aku akan menghilang dari kehidupannya dan
membiarkannya bahagia. Sejak saat itu aku tidak pernah menampakkan diri jika
bertemu dengannya. Dan seakan aku
menghilang di telan oleh bumi. Aku tau dia selalu pergi ke kelasku mencariku
namun aku tidak mau bertemu danganya. Ia coba menghubungiku, namun aku tak
pernah membalas telpon maupun smsnya. Pernah ia datang ke rumahku , namun, aku
sengaja tak menemuinya,aku menuyuruh ibuku untuk berkata padanya bahwa aku
tidak ada di rumah,padahal aku ada di kamar.
Hampir 2 minggu aku
tidak bertemu dengannya,ini adalah hal yang aku rencanakan agar dia bisa
melupakan aku, memang aku tau, begitu jahatnya aku melakukan hal ini. Namun, apalah daya hati ini tlah tergores
dengan dengan luka yang tlah menyatu dengan hati ini.
Semua berkas tlah
aku selesaikan tinggal menunggu hari keberangkatan yang tinggal satu minggu
lagi. Ya, waktuku sangatlah sebentar sebelum aku pergi meninggalkan kenangan
indah yanh tlah kubuat bersama andien selama 3 tahun ini. Semua terlalu indah
untuk dilupakan, namun, semua tlah kalah dengan luka ini. Sebelum
kepergianku, aku ingin megunjungi tempat dimana aku dan andien selalu
menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama. Masih jelas di ingatanku tempat
duduk yang selalu kami gunakan untuk duduk bersama. Taman ini menjadi saksi
semua kenangan indah kami bersama. Berat untuk meninggalkan semua ini. Tapi,
kenapa disaat aku akan pergi aku harus melihat pemandangan yang begitu
menyakitkan ini. Lagi -lagi aku melihat mereka jalan bersama. Namun, yang lebih
menyakitkan adalh andien membawa raka ke tempat kenangan kami berdua. Seketika
itu aku hendak pergi karena ku tak kuat melihat pemandangan yang ada di
depanku. Namun,ketika aku hendak pergi, andien melihatku dan segera mengejarku
dan mencegahku.
"Kenapa kau
selama ini menghilang dan menghindar dariku ??" Tanyanya dengan suara yang
parau.
Aku masih diam
membisu dan tak menjawab pertanyaanya.
"Kenapa kau
diam, jawab aku apa yang membuatmu berubah?"
Namun aku masih
tetap diam tak kuat ku menjawab pertanyaanya.
"Lihat
aku,lihat aku!!!"
Seketika itu kulihat
wajahnya, dan kulihat tetesan air mata mengalir dari wajahnya. Tak kuat ku melihatnya segera ku berpaling.
“ ada seseorang yang sedang menunggumu lebih baik kau mengurusinya dari
pada kau repot-repot mengurusiku” itulah kalimat terakhir yang keluar dari
mulutku sebelum aku pergi meniggalkannya.
Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Tak ku sangka waktu ku talh tiba
untuk pergi meninggalkan semua ini. Semua barang dan keperluan yang aku
butuhkan di sana tlah siap,dan sekarang waktuku untuk pergi. Sebelum aku
pergi,aku ingin melihat andien untuk yang terkahir kali meskipun itu dari jauh.
Dan akupun pergi menuju kampus, tempat terakhir yang akan ku kunjungi terakhir
kali.
Langkah kaki ini begitu berat, seakan tak bisa ku pergi meninggalkan
samua ini. Setelah mencari di berbagai tempat akhinrya ku menemukannya yang
sedang tertawa lepas bersama teman-temannya.
“pasti kau bisa bahagaia meski tanpaku disisimu” akupun pergi dari
tempat itu dan menuju tempat sahabat andien untuk menitipkan sesuatu kepada
andien.
“eh, dien ini ada sesuatu dari Rian tadi dia nitipin ke aku katanya
suruh kasihkan ke kamu”
“hah? Sekarang dimana dia????”
“aku gatau tadi setelah dia nitipin itu dia langsung pergi”
“oh ya udah makasih ya”
“iya sama-sama”
“ DEAR ANDIEN,
MUNGKIN JIKA KAMU TLAH MEMBACA SURAT INI AKU
TLAH PERGI.AKU CUMA MAU NGUCAPIN TERIMA KASIH SELAMA INI KAMU TLAH MAU
MENEMANIKU, TERIMA KASIH KAU TLAH MAU MENJADI PENGHIAS HARI-HARIKU, DAN TERIMA
KASIH KAU TLAH MAU MENJADI BAGIAN DARI HIDUPKU. MUNGKIN MEMANG AKU BUKAN ORANG
YANG SEMPURNA, NAMUN AKU TLAH MENJADI SEMPURNA DENGAN ADANYA DIRIMU. KAU SELALU
BISA MEMBUATKU KEMBALI BANGKIT DISAAT TERPURUK, KAU YANG MENJADI PENOLONGKU
DISAAT KU TERJATUH, KAU BAGAIKAN MATAHARI DALAM HIDUPKU,KAU TERANGI AKU DALAM
KEGELAPAN.AU BERSYUKUR TUHAN MEMBERIKU HAL YANG SANGAT BERHARGA, YAITU DIRIMU.
MESKIPUN KU TAK BISA MEMILIKIMU UNTUK SELAMANYA, TAPI KU TLAH BAHAGIA KAU HADIR
DALAM HDUPKU DAN MELIHATMU BAHAGIA, ITULAH KEBAHAGIAANKU .
“TERIMA KASIH UNTUK SEGALANYA”
RIAN “
TAMAT


0 comments:
Post a Comment